Malam. Sekarang aku mau ceritakan kisah ketika aku jadi anak-anak. Ya, gak semua sih hanya yang bisa di ingingat dan mungkin ini bisa menjadi beberapa part. Sebelumnya aku sudah cerita kekalian bahwa aku terlahir dalam keluarga pesantren. Karena ayahku seorang pengasuh pondok. Jadi masa kecilku tidak jauh-jauh dari kehidupan para santri. Jadi ingat, dulu sering main sama mas santri. Masuk ke kamarnya. Berantakin kasurnya.kadang aku juga memakai lemari mereka untuk sembunyi. Ketika mas fathi di suruh ibu buat nyariin aku. Waktu sebelum TK aku sudah jadi boneka.di cubitin. Di tarik tarik. Kadang juga di lempar ke atas terus di tangkep lagi Maklum santri kan hiburannya dikit. Atau mungkin mereka rindu dengan adeknya yang di rumah. Dulu juga sering di ajak jalan-jalan, muter-muter pondok, di traktirin di kantin. Bahkan dulu kalau habis main sama temen-temen –yang juga anak ustadz- terus lapar, biasanya kita langsung menuju dapur. Malak makanan ke mas santrinya seenak jidad kita. Hahaha.
Dulu aku dan juga mas fathi serta mbak anggi juga sering main di kamar ustadz. Lompat-lompat di tumpukan kasur. Ngutak – atik komputer ustad ADM, sampe main game pake proyektor. Kalo gak salah dulu mainnya game friding frenzy, atau apalah. itu lho game yang ikan makan ikan biar gede. Tapi bisanya Cuma makan ikan yang lebih kecil. Kalau sudah gitu kita akan serasa masuk ke dunia game, eh serasa ikut berenang ding. Dan gak bakal berhenti sebelum di bujuk sama ustadz, bilang katanya di telfon sama ayah. Di suruh pulang. Waktu kecil juga sering isengin ustadz. Nelpon kamar ustadz dari telpon rumah, terus ngaku-ngaku sebagai polisi. Hahaha, jujur, kalian juga pernah kayak gitukan pas masih kecil?..
Kalau mengenang masa kecil dulu jadi senyum-senyum sendiri kayak orang gila. Waktu kecil susah sekali di suruh tidur siang, pas gede malah susah cari waktu buat tidur siang. Ibu kalau nyuruh anak-anaknya tidur selalu di pencar kamarnya. Karna kalau tidak di pencar, malah gak jadi tidur, ngobrol.mainan. bikin gaduh. Dan hal-hal yang dapat menghancurkan keharmonisan rumah. dan uniknya sistem pembagian kamar di lakukan dengan cara undian, jadi pas siang hari sebelum jam tidur. Ibu ngumpulin kita bertiga. Mas fathi, mbak anggi dan aku sendiri, karena adikku masih kecil. lalu ibu akan menggulung potongan kertas yang sudah di beri nama kamar. Kamar depan. Kamar tengah. Dan kamar belakang. Setelah di kocok barulah ibu menyuruh kita untuk mengambil. Nama kamar yang tertera, di situlah kita harus tidur. Walaupun ku akui cara ini kurang efektif. Karena setengah jam setelah tidur, atau tepatnya pura-pura tidur. Kita kabur untuk bermain lewat pintu belakang. Tapi sebelumnya kita pastikan dulu kalau ibu juga udah tidur sambil ngelonin adek. Beruntung kalau tidak ketahuan. Kalau ke tahuan ya mas fathi yang biasanya kena marah.
Kami dulu ketika SD satu sekolahan, di SDIT bina insani kedri, mas fathi kelas enam, mbak anggi kelas tiga, sedagkan aku kelas satu. Perjalanan ke sekolah pun kerap menjadi kenangan manis hingga sekarang, soalnya ibu yang membonceng kami bertiga dengan sepada motor sogun, dengan waktu tempuh hampir setengah jam. Gak kebayang gimana motor itu bisa muat di naiki empat orang sekaligus. Kalau aku mending tubuhku kecil, jadi tidak makan banyak tempat. Lha mas fathi. Ketika itu massa kejayaannya dalam hal kesuburan. Tubuhnya gempal. Sampe gak punya leher karena ketutupan lemak –maka dari itu kenapa mas fathi dulu di panggil patkay, itu lho, tokoh babi di acara TV kera sakti, dan karena aku kurus makanny dulu aku di paggil maskur. Mas kurus. Ada satu moment di mana aku yang selalu salah. Yaitu hari senin. Ketika hari upacara. Kami selalu datang terlambat ke sekolah. Bukan karena motornya yang bermasalah. Tapi aku yang bermasalah. Kadang aku lupa di mana menaruh dasi. Di sinilah bakat keteledoranku muncul. Bingung muter-muter rumah nyariin benda tersebut. Mas fathi sama mbak anggi selalu ngedumel.maksa ibu buat ninggalin aku. Kala sudah gitu biasanya aku juga ikut ngambek. Ngancam gak mau berangkat sekolah. Dengan raut mencucut akhirnya kami berangkat kesekolah setelah di pastikan bahwa kita akan terlambat. Minggu depannya aku lupa di mana menaruh topi.
Dan ketika pulang sekolah, selalu seorang ustadz kepercayaan ayah menjemput kami. Ustadz wahyudi namanya, sekarang beliau dan keluarganya tinggal di solo. Orangnya humoris. Selalu saja ada lelucon baru setiap harinya. Ketika pulang kadang kita di ajak jalan-jalan, makan bakso. Atau hanya sekedar nyari mbak-mbak di pinggir jalan buat di siulin. Memang usil. Tapi di situlah kami bisa ketawa lepas setelah seharian stres melahap pelajaran. Di tambah hukuman karena terlambat upacara.
Ketika itu mbak anggi mendapat hadiah sepedah dari papa –sebutan kami untuk kakek dari ibu-. sebagai grand launching, mas fathi membonceng mbak anggi untuk menjemputku di rumahnya toba, temanku. Sebelumnya aku menolak untuk di jemput. Selain karena jarak rumahku dekat. Keliatan pula dari rumahnya toba. Toh juga tidak ada tempat boncengan lagi. Karena sepedah itu hanya cukup untuk dua orang saja. Maha jenius mas fathi ketika itu, entah dari mana, ia mendapat ilham untuk menaruhku di keranjang depan, wah girang bukan kepalang diriku. Bisa duduk di depan melihat pemandangan tanpa terhalang,merasakan terpaan angin sore, dan hal-hal yang sesuai ekspetasiku indah. Tapi justru peristiwa nahas menimpaku ketika itu, ya aku yang tertimpa, bukan meraka. tertimpa sepedah tepatnya. Awalnya semua berjalan sesuai ekspetasiku. Di tengah-tengah lamunanku, yang ketika itu sedang membayangkan menjadi kapten pesawat luar angkasa, dalam misi penyerangan alien. ada suatu hal yang mengganjal di depan. Ada pak polisi, tapi lagi tidur. Sekejap alisku mengkerut, kayak ada firasat yang aneh. Dan mungkin mas fathi tidak melihat. Karena pandangannya terhalang badanku. Dalam gerak slowmotion sepedah itu mengalami insiden itu tepat di tanjakan. Kelebihan beban di depan, membuatnya tidak seimbang.dan.. kalian taulah kelanjutannya. Belum sempat meneriakkan mayday, Aku sudah tidak sadarkan diri. yang jelas, ketika aku terbangun, aku mendapati bibirku berdarah. Mas fathi di marahin sama ibu. Dan mbak anggi di suruh oleh ibu untuk membuatkanku segelas sirup.
Bersambung...