Selasa, 03 April 2018

My opening diary. Bab bayi

Entah mengapa aku ingin sekali menulis kisah hidupku, semua orang mempunyai kisah hidupnya sendiri-sendiri. Termasuk kalian bukan. Tuhan hanya memberikan kita hidup. Kitalah yang menentukan jalan kita sendiri. Pada malam hari ini, setelah melewati fase yang panjang pada masa remajaku dan akan terus berlanjut. Aku mendapat ide untuk merekam perjalananku. Tujuannya hanya agar dapat menjadi pelajaranku kedepannya. Dan aku tidak melupakan di mana aku berasal. Aku bukanlah pendongeng yang baik, harus ku akui itu. Aku tidak berharap mendapat banyak pembaca pada blogku ini. Mungkin aku tidak mengenal kalian. Tapi semoga kisahku dapat menjadi sekedar teman senggang kegiatan kalian. Ohya, saranku : tulislah kisah hidupmu, mungkin sewaktu-waktu dapat menjadi inspirasi orang lain
@@@@
Aku terlahir delapan belas tahun yang lalu tepatnya pada tanggal lima november sembilan belas sembilan puluh sembilan. Aku bersyukur lahir pada tahun itu. Tidak ikut merasakan fase kritis negri ini. Ohya ayahku ahmad suharto,di beri nama demikian oleh kakekku karena ayahku lahir ketika presiden soeharto di angkat menjadi presiden, harapan kakek ku dulu ya agar ayahku bisa menjadi seorang pemimpin besar. Seperti pak harto itu, Dalam bahasa jawa pun  “su” berarti banyak, kaya, atau arti yang memiliki makna berlebihan. Kalau “harto” sendiri pun berarti harta, atau kekayaan. Jadi suharto pun juga bisa menjadi harapan agar ayahku kelak memiliki banyak harta, atau lebih tepatnya orang kaya. Keren bukan? Dan sekedar informasi saja sekarag ayahku menjadi pengasuh di salah satu pondok putri di jawa timur.
Sedangkan ibuku, ibu terbaik sedunia –itu menurutku, terserah jika kalian tidak percaya.  Seorang bidadari surga, ibuku ini memiliki nama silvana yunita, nama yang indah bukan. Sesuai dengan parasnya. Jika kalian tau paras ibuku. Mungkin kalian juga akan setuju kalau aku menyebutnya bidadari. Makhluk paling lembut dan juga tegas menurutku. Keputusan yang di ambil hampir mustahil untuk di gugat. Meskipun sebelum mengambil keputusan ibuku selalu bermusyawarah terlebih dahulu. Tapi jangan bayangkan ibuku orangnya galak. Diktator, Veodal, atau apalah. Semenjak aku menginjak usia remaja, tepatnya ketika aku sekolah SMP di suatu pondok tahfidz. Aku belum pernah malihat ibuku marah, hingga memukul atau apalah, kalau ibuku marah biasanya beliau hanya diam, dengan raut wajah kecewa. Jika emosinya sudah reda, barulah ibuku mengajak berbicara. Katanya marah itu dari setan, jadi gak baik kalau marah-marah ke anak, bukannya mendidik, malah bisa jadi menyakiti. Sungguh hebat ibuku ini. Tidak pernah terlihat lemah, selalu berusaha tegar. Tidak ingin terlihat menangis di depan anak-anaknya. menurutnya jika ibunya lemah, bagaimana anaknya nanti?
Ohhh, aku sampai lupa mengenalkan diriku sendiri, namaku syauqi bey sadadi. Bukan nama indonesia, justru terlalu ke arab-araban, banyak orang yang mengira –setelah aku memperkenalkan diriku, dan juga setelah mereka memperhatikan wajahku- bahwa aku keturunan arab. Jika kalian tidak percaya lihat saja di facebookku. Namanya sama seperti namaku. Kalau di lihat dari foto, wajahku seperti perpaduan antara wajah turki di campur wajah jawa, jadinya wajahku seperti orang pakistan, hahaha gak nyambung, bodo amat. dan syauqi artinya kerinduanku, bey jika di tulis arab akan menjadi bik artinya kepadamu. Dan sadadi artinya yang kuat. Bukan syadadi. Ya, kalau di terjemahkan secara luas arti namaku kira-kira menjadi kerinduanku kepadamu yang begitu kuat.hehehe keren banget kan?. Dan karna nama itu adalah sebuah do’a. Maka tak sedikit orang yang mengenalku merasakan rindu ketika aku tidak ada di dekat mereka. Merasa sangat kehilangan jika aku tidak ada di antara mereka. Namaku jadi seperti jimat. Selain banyak yang merasakan rindu, banyak di antara gadis-gadis yang diam-diam menyukaiku. Menstalking instagramku. Di screenshot, dan di jadikan wallpaper hp mereka. Itu ku tau dari pengakuan teman-temannya bukan pendapatku yang bisa di bilang ke-ge-er-ren. Aku terlahir di sebuah rumah sakit di kota kediri, dan pastinya di atas ranjang  -aku lupa namanya, nanti aku tanyakan lagi ke ibuku-. Kalau tidak salah menjelang subuh. Jam setengah empat –sewaktu waktu bisa di ralat sesuai dengan pengakuan ibuku nanti.
Seperti halnya anak-anak yang baru di lahirkan pada umumnya. Maka aku menjadi harapan baru orangtuaku. Walaupun bukan satu-satunya. Karena aku masih punya satu orang kakak laki-lakidan seorang kakak perempuan. Di tambah lima tahun setelah kelahiranku, adikku yang terakhir juga ikut nimbrung menjadi harapan keluargaku. Nanti mereka semua akan aku ceritakan di lain waktu.
Ketika itu ayahku masih menjadi pengassuh di pondok putra yang ada di kediri. Tentu orang-orang berharap aku dapat menjadi penerus ayahku. Seorang ustadz. Waktu kecil aku hanya ikut-ikutan. Bahkan dulu aku pernah bilang kalau aku ingin belajar di madinah. Ketika pulang lantas menjadi seorang ustadz seperti ayahku. Begitu mulianya cita-citaku dulu.hahaha Tapi setelah aku tumbuh remaja, pada masa pencarian jati diriku. Barulah aku memiliki cita-cita, yaitu menjadi seorang pengusaha, kuliah di london, jerman atau apalah yang penting di eropa, dan sampai sekarang belum pernah kepikiran untuk kuliah di afrika. Aku ingin di eropa karena aku tau bahwa untuk kuliah jurusan menejemen bisnis lebih baik daripada aku mengambil di madinah, atau negara arab lainnya. Ketika orang lain bertanya kenapa aku tidak ingin sekolah di madinah, seperti kakakku. Malah ingin ke eropa. Sambil bercanda aku bilang “enakan di eropa dingin, banyak salju, bisa bikin es serut setiap hari. Kalau di madinah panas, banyak debu bisa bikin batuk”. Hehehe.
Eh, udah dulu ya, di sini udah malam. Ngantuk aku. Akan aku sambungblain kali lagi. Itupun kalau kalian ingin baca lagi. Ok good bye. Mimpi indah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar